Sepatu Kulit Magetan Masih Sangat Berpotensi Besar

Sepatu Kulit Magetan Masih Sangat Berpotensi Besar

Sepatu kulit Magetan kini Jad Incaran

Kabupaten mungil yang terdapat di ujung barat Propinsi Jawa Timur ini memanglah tak setenar Jember, Banyuwangi, Batu, atau Surabaya. Kalaupun orang di tanya Magetan, tentu yang diingat Telaga Sarangan.

Walau sebenarnya Kabupaten yang miliki luas 688, 85 km2 ini miliki kelebihan tidak hanya bidang wisata, ialah kerajinan kulit. Ada sejak mulai 60an silam, kerajinan tangan memiliki bahan basic kulit sapi ini dapat dibuktikan makin berkembang, bahkan juga dapat berkompetisi dengan daerah lain seperti Mojokerto, Sidoarjo, Pasuruan, Tanggerang, Cibaduyut Bandung.

Sepatu Kulit Magetan kini Jadi Incaran

Bagi anda yang berwisata di Kabupaten Magetan, rasa-rasanya bakalan tidak komplit jika belum berkunjung ke Sentra Industri Kerajinan Kulit Magetan yang ada di jalur perjalanan menuju object wisata Telaga Sarangan. Tepatnya di Jl Sawo, Kelurahan Selosari, lebih kurang 1 Km arah barat dari alun-alun Kabupaten Magetan.

Selama masuk lokasi ini pengunjung dapat dimanjakan dengan jejeran toko kerajinan kulit yang memajang beragam tipe sepatu, sandal, tas, jaket, ikat pinggang, serta beragam accessories kulit yang lain dengan kisaran harga terjangkau.

Kerajinan kulit Kabupaten Magetan cukup di kenal di Indonesia, tidak hanya daerah Cibaduyut Bandung, Tanggerang, serta Tanggulangin di Sidoarjo. Keseriusan pemerintah setempat dalam meniti usaha pemrosesan kulit jadi beberapa barang kerajinan nampak dengan membangun LIK (Lingkungan Industri Kulit).

LIK memproses kulit sapi jadi beberapa bahan kulit 1/2 jadi yang setelah itu dapat didistribusikan ke beberapa perajin kulit di Kabupaten Magetan. Dengan keperluan kulit yang makin bertambah, LIK juga sudah memasok keperluan kulit keluar Kabupaten Magetan.

Dijadikannya Jalan Sawo sebagai sentra kerajinan kulit bukanlah tanpa ada argumen. Pemerintah Magetan menginginkan beberapa wisatawan sebelumnya atau setelah berkunjung ke Telaga Sarangan, bisa berkunjung ke tempat ini untuk menyaksikan beragam jenis product kerajinan kulit ini.

Product kerajinan kulit yang dipajang di etalase toko selama Jalan Sawo dapat jadi pesona wisata berbelanja sendiri buat yang datang. Tidak heran jikalau pekan akhir, berlibur sekolah, atau hari libur nasional tempat ini dipadati beberapa pelancong.

Kisah Pengrajin Sepatu Kulit Magetan

Efek ramainya sentra kerajinan kulit begitu dirasa beberapa perajin, satu diantaranya Suparni (58 th.) yang mengakui perbulannya memperoleh tidak kurang dari Rp50 juta. “Pembelinya dapat dari daerah kurang lebih Magetan seperti Madiun, Kediri, Probolinggo, serta Blitar banyak juga yang datang dari luar propinsi seperti Wonogiri, Kalimantan, Jakarta, serta Bali, ” kata Suparni.

Yang memiliki UD Prima ini mengakui begitu bersukur usaha yang dirintis sejak mulai 22 th. silam ini membawa hasil, bahkan juga dapat menyekolahkan anaknya sampai lulus perguruan tinggi. ”Awalnya dahulu mudal saya cuma Rp5 juta, alhamdulillah dapat bertahan hingga saat ini, ” kata ayah tiga anak ini sembari tunjukkan berapa product sepatu kulitnya.

Lelaki asal Desa Selosari Kabupaten Magetan ini jadi bercerita awal menekuni usaha ini. Menurut dia sebelumnya buka sendiri, Suparni belajar dari kakak iparnya mengenai usaha serta pembuatan sepatu ataupun sandal kulit. “Setelah di rasa dapat, kakak ipar berani melepas saya untuk buka usaha sendiri, bahkan juga ia juga yang memberi utang modal, ” katanya.

Usaha yang dirintis berbarengan istrinya ini sedikit untuk sedikit mulai membawa hasil serta selalu berkembang makanya dapat merekrut karyawan dari tetangga sekitarnya. “Meski tidaklah terlalu banyak, namun ada saja yang suka pada serta beli sepatu saya, ” ungkap kakek tujuh cucu ini.

Usaha usaha tidak selama-lamanya mulus, ‘pasang surut’ juga dihadapi Suparni. pada 1998 pasca reformasi, lelaki pemalu ini pernah tutup usahanya akibat Krisis Moneter (Krismon) yang menempa Indonesia satu persatu karyawannya mesti diberhentikan akibat tak dapat membayar. ”Saat Krismon begitu susah jual sepatu, jangankan kirim ke luar kota, di jual disini saja tak laris, sebab itu saya hentikan produksinya, ” kenang Suparni.

Karna tak ingin selalu terpuruk, Suparni dibantu Vivin Racmawati (32) putri pertamanya jadi perlahan-lahan namun tentu menggerakkan usaha ini kembali. Berbekal utang bank dengan bunga enteng, Suparni kembali bangkit serta selalu berkembang sampai sekarang ini. Saat ini Suparni bersama keluarga miliki 18 karyawan dengan produksi sepatu meraih 30-50 gunakan perharinya.

“Kami sebagai putera daerah Kabupaten Magetan, berkemauan dengan harapan yang besar menginginkan berperan pada bangun daerah. Sudah pasti dibutuhkan gerakan dari kita seluruh untuk memajukan industri serta perkonomian. Langkah simpel yang bisa kita kerjakan yaitu dengan menyukai product dalam negeri dari pada pilih beberapa produk buatan luar negeri, ” ungkap Vivin.

Ibu dua anak ini menjelaskan, walau mesti berkompetisi dengan beberapa pengrajin yang lain, Vivin optimis dapat temukan langkah supaya usaha keluarganya ini dapat berkembang, karna hingga sekarang ini sistim penjualannya masih tetap manual belum mengandal layanan internet.

“Melihat makin banyak beberapa pengrajin, kami mesti siap berkompetisi langkahnya merajut jalinan dengan beberapa costumer supaya masih pengin jadi pelanggan, ” jelasnya.

Sepatu Magetan Masih Sangat Berpotensi untuk Terus Maju

Manfaat pengembangan pemasaran produknya alumni Kampus Airlangga (Unair) Surabaya ini sejak mulai awal th. ini mulai memakai technologi internet makanya pelanggan dari luar Jawa seperti Halmahera, Lampung, Jayapura, kalimantan, serta Maluku bisa terlayani.

“Sebagian besar pelanggan kami dari kelompok guru serta siswa sekolah. “Memang sepatu produksi kami umumnya tipenya untuk kantoran, guru ataupun siswa sekolah, ” imbuhnya.

Selain melayani konsumen yang datang ke toko, Vivin mengakui juga melayani beberapa tengkulak baik yang datang dari Jatim ataupun propinsi lain. ”Kami juga terima product kerajinan dari warga kurang lebih, kami bantu memasarkannya, ” tambah Vivin.

Lebih lanjut lulusan Fakultas Ekonomi Unair ini mengakui begitu bersukur atas support pemerintah daerah serta pusat seperti pertolongan mesin ataupun permodalan dengan bunga enteng.

“Pemerintah daerah juga mengadakan kursus pembuatan serta pengembangan design kerajinan kulit sampai langkah memasarkannya, kami juga kerap diikutkan dalam beragam pameran serta studi banding ke daerah lain, ” terangnya.

Sumber: http://kominfo.jatimprov.go.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *